Minggu, 22 April 2012

Indonesia telah kehilangan rohnya Perjuangan rakyat Indonesia terdahulu membuahkan jeritan dan perampasan hak-hak rakyat jelata. Dalam tubuh pancasila sila ke lima “keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia “ itu hanyaloah sebuah symbol sejarah yang tak berguna. Hal ini di tandai dengan kembalinya rejim yang pro terhadap neoliberalisme, yakni SBY – BUDIONO. Akhir tahun 2011 berbagai problem yang terjadi di pangkuan ibu partiwi Indonesia, persoalan imprelime memakan korban jiwa rakyat masuji, dan bima yang baru-baru terjadi, hal ini jelas-jelas merupukan pelanggaran HAM, namun anehnya pemerintah tidak merespon dengan serius persoalan ini. Kasus ini di tutupi dengan persoalan-persolan politik dan kasus korupsi yang terjadi. Aparat kepolisian yang terlibat dalam kematian rakyat bima dan masuji, bisa di katakana tidak di kenangkan sanksi atau hukuman sama sekali, sebab hukuman yang di perolehnya tidak setimbang dengan perbuatan yang di lakukanya. Maka makin jelaslah pemerintah kita tidak berpihak ke pada rakyat. Penegakan supermasi hukum berjalan pincang. Maksudnya jika rakyat kecil yang melakukan pelanggaran, maka penegakan hukum di lakukan secara efektif, namun jika hal yang sama di lakukan oleh pemerintah selaku pemegang kekuasaan maka itu sangat sulit untuk di tegakan secara efektif. Pemerintah kita seakan-akan kebal dengan hukum. Padahal jelas dalam hukum mengandung asas The Rule Of Law ( semua manusia sama ke dudukanya di mata hukum) asas ini menegaskan, bahwa tidak ada perbedaan antara pemerintah dan rakyat di mata hukum, namun realitasnya tidak demikian, hukum seakan-akan hanya di miliki oleh orang-orang tertentu saja dalam hal ini penguasa dan pengusaha. Indonesia telah kehilangan rohnya sebagai Negara dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Yang pantas untuk Negara Indonesia adalah dari penguasa, oleh penguasa, dan untuk pengusaha. Mungkin ini yang lebih tepat, sebab saya menilai problem yang terjadi di Negara Indonesia tidak terlepas dari introfensi penguasa terhadap rakyat Indonesia demi kepentingan kapitalisme atau pengusaha yang akan menanamkan modalnya di Indonesia untuk mengekspolitasi sumber daya alam (SDA). Problem imprealisme yang terjadi di majusi dan kab. bima di NTB menjadi bukti yang kuat, bahwa isu-isu politik dan korupsi hanyalah sebuah stragi SBY-BUDIONO untuk memuluskan masuknya investor asing ke Indonesia. karena isu korupsi yang sedang di perbincangkan selalu tidak mendapat penyelesaian, misalnya kasus bank century. Isu politik yang hangat saat ini tentang gedung DPR. Gedung DPR sudah sangat mewah di bandingkan rumah-rumah rakyat Indonesia.masih banyak rakyat Indonesia yang tinggal di bawah kolom jembatan, masih banyak anak-anak bangsa yang mengulurkan tanganya di setiap persimpangan jalan untuk mendapatkan recehan agar bisa bertahan hidup. Negara Indonesia di merdekakan dan di pertahankan kemerdekaany tidak lain dan tidak bukan hanya untuk melepaskan diri dari penjajahan colonial, namun sangat di sayangkan setelah terlepasnya kita dari penjajahan colonial, kita di masuki dengan penjajahan gaya baru, yakni imprelisme dan yang mejadi pelopor masuknya imprealisme Di Negara Indonesia adalah SBY-BUDIONO. Ini fakta kalau Indonesia telah kehilangan rohnya sebagai bangsa yang mengutamakan kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Sebab jika pemimpin suatu bangsa tidak lagi memperhatikan kesejahteraan rakyatnya, maka bangsa itu harus di pertanyakan konsistenya segai bangsa yang berdaulat dan berkeadilan, karena sejahtera atau tidaknya suatu bangsa tergantung pemimpinya. Negara Indonesia telah menjadi milik kaum penguasa dan pengusaha, sebab kesejahteraan dan keamanan hanya bisa di dapat di kalangan penguasa dan pengusaha. Rakyat jelata hanya bisa menitikan air matanya, karena mereka harus menyerahkan haknya terhadap penguasa untuk di ekspolitasi oleh pengusaha. Alangkah lucunya negri ini, rakyat terjajah di negri sendiri. Pemerintah di anggap sebagi pelindung rakyat, justru berbalik arah memusuhi rakyatnya dan menembakinya sampai mati. Anggapan rakyat Indonesia, ketika berakhirnya orde baru dan setelah masuknya revormasi akan tercipta tatanan masyrakat yang sejahtera, ternyata itu hanya sebuah fatomorgana saja. Ketika SBY-budieono berkuasa kekejaman terhadap rakyat dan aktivis-aktivis baik mahasiswa maupun LSM kembali terjadi, mereka harus kembali berhadapan dengan aparat, kembali mandi hujan peluru yang akan menembus tulang yang tak berdaging. Berkuasanya SBY-BUDIENO di tandai dengan lahirnya penjajahan gaya baru dan hilangnya roh Negara Indonesia. maka hal yang harus di lakukan saat ini adalah bergandeng tangan, menyatukan tekad untuk mengatakan perlawanan ke pada ke diktatoran yang terjadi di pangkuan ibu partiwi serta di pelosok-pelosok nusantara dari sabang sampai merauke Negara indonesia.

                                                  
Indonesia telah kehilangan rohnya
Perjuangan rakyat Indonesia terdahulu membuahkan jeritan dan perampasan hak-hak rakyat jelata. Dalam tubuh pancasila  sila  ke lima “keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia “ itu hanyaloah sebuah symbol sejarah yang tak berguna. Hal ini di tandai dengan kembalinya rejim yang pro terhadap neoliberalisme, yakni SBY – BUDIONO. Akhir tahun 2011 berbagai problem yang terjadi di pangkuan ibu partiwi Indonesia, persoalan imprelime memakan korban jiwa rakyat masuji, dan bima yang baru-baru terjadi, hal ini jelas-jelas  merupukan pelanggaran HAM, namun anehnya pemerintah tidak merespon dengan serius persoalan ini. Kasus ini di tutupi dengan persoalan-persolan politik dan  kasus korupsi yang terjadi.
Aparat kepolisian yang terlibat dalam kematian rakyat bima dan masuji, bisa di katakana tidak di kenangkan sanksi atau hukuman  sama sekali, sebab hukuman yang di perolehnya tidak setimbang dengan perbuatan yang di lakukanya. Maka makin jelaslah pemerintah kita tidak berpihak ke pada rakyat. Penegakan supermasi hukum berjalan pincang. Maksudnya jika rakyat kecil yang melakukan pelanggaran, maka penegakan hukum di lakukan secara efektif, namun jika hal yang sama di lakukan oleh pemerintah selaku pemegang kekuasaan maka itu sangat sulit untuk di tegakan secara efektif. Pemerintah kita seakan-akan  kebal dengan hukum. Padahal jelas dalam hukum mengandung asas The Rule Of Law ( semua manusia sama ke dudukanya di mata hukum) asas ini menegaskan, bahwa tidak ada perbedaan antara pemerintah dan rakyat di mata hukum, namun realitasnya tidak demikian, hukum seakan-akan hanya di miliki oleh orang-orang tertentu saja dalam hal ini penguasa dan pengusaha.
Indonesia telah kehilangan rohnya sebagai Negara dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Yang pantas untuk Negara Indonesia adalah dari penguasa, oleh penguasa, dan untuk pengusaha. Mungkin ini yang lebih tepat, sebab saya menilai problem yang terjadi di Negara Indonesia tidak terlepas dari introfensi penguasa terhadap rakyat Indonesia demi kepentingan kapitalisme atau pengusaha yang akan menanamkan modalnya di Indonesia untuk mengekspolitasi sumber daya alam (SDA). Problem imprealisme yang terjadi di majusi dan kab. bima di NTB menjadi bukti yang kuat, bahwa isu-isu politik dan korupsi hanyalah sebuah stragi SBY-BUDIONO untuk memuluskan masuknya investor asing ke Indonesia. karena isu korupsi yang sedang di perbincangkan selalu tidak mendapat penyelesaian, misalnya kasus bank century. Isu politik yang hangat saat ini tentang gedung DPR. Gedung DPR sudah sangat mewah di bandingkan rumah-rumah rakyat Indonesia.masih banyak rakyat Indonesia yang tinggal di bawah kolom jembatan, masih banyak anak-anak bangsa yang mengulurkan tanganya di setiap persimpangan jalan untuk mendapatkan recehan agar bisa bertahan  hidup.
Negara Indonesia di merdekakan dan di pertahankan kemerdekaany tidak lain dan tidak bukan hanya untuk melepaskan diri dari penjajahan colonial, namun sangat di sayangkan setelah terlepasnya kita dari penjajahan colonial, kita di masuki dengan penjajahan gaya baru, yakni imprelisme dan yang mejadi pelopor masuknya imprealisme Di Negara Indonesia adalah SBY-BUDIONO. Ini fakta kalau Indonesia telah kehilangan rohnya sebagai bangsa yang mengutamakan kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Sebab jika pemimpin suatu bangsa tidak lagi memperhatikan kesejahteraan rakyatnya, maka bangsa itu harus di pertanyakan konsistenya segai bangsa yang berdaulat dan berkeadilan, karena sejahtera atau  tidaknya suatu bangsa tergantung pemimpinya.

Negara Indonesia telah menjadi milik kaum penguasa dan pengusaha, sebab kesejahteraan dan keamanan hanya bisa di dapat di kalangan penguasa dan pengusaha. Rakyat jelata hanya bisa menitikan air matanya, karena mereka harus menyerahkan haknya terhadap penguasa untuk di ekspolitasi oleh pengusaha. Alangkah lucunya negri ini, rakyat terjajah di negri sendiri. Pemerintah di anggap sebagi pelindung rakyat, justru berbalik arah memusuhi rakyatnya dan menembakinya sampai mati. Anggapan rakyat Indonesia, ketika berakhirnya orde baru  dan setelah masuknya revormasi akan tercipta tatanan masyrakat yang sejahtera, ternyata itu hanya sebuah fatomorgana saja. Ketika SBY-budieono berkuasa kekejaman terhadap rakyat dan aktivis-aktivis baik mahasiswa maupun LSM kembali terjadi, mereka harus kembali berhadapan dengan aparat, kembali mandi hujan peluru yang akan menembus tulang yang tak berdaging. Berkuasanya SBY-BUDIENO di tandai dengan lahirnya penjajahan gaya baru dan hilangnya roh Negara Indonesia. maka hal yang harus di lakukan saat ini adalah bergandeng tangan, menyatukan tekad untuk mengatakan perlawanan ke pada ke diktatoran yang terjadi di pangkuan ibu partiwi serta di pelosok-pelosok nusantara dari sabang sampai merauke Negara indonesia.
Perjuangan rakyat Indonesia terdahulu membuahkan jeritan dan perampasan hak-hak rakyat jelata. Dalam tubuh pancasila  sila  ke lima “keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia “ itu hanyaloah sebuah symbol sejarah yang tak berguna. Hal ini di tandai dengan kembalinya rejim yang pro terhadap neoliberalisme, yakni SBY – BUDIONO. Akhir tahun 2011 berbagai problem yang terjadi di pangkuan ibu partiwi Indonesia, persoalan imprelime memakan korban jiwa rakyat masuji, dan bima yang baru-baru terjadi, hal ini jelas-jelas  merupukan pelanggaran HAM, namun anehnya pemerintah tidak merespon dengan serius persoalan ini. Kasus ini di tutupi dengan persoalan-persolan politik dan  kasus korupsi yang terjadi.
Aparat kepolisian yang terlibat dalam kematian rakyat bima dan masuji, bisa di katakana tidak di kenangkan sanksi atau hukuman  sama sekali, sebab hukuman yang di perolehnya tidak setimbang dengan perbuatan yang di lakukanya. Maka makin jelaslah pemerintah kita tidak berpihak ke pada rakyat. Penegakan supermasi hukum berjalan pincang. Maksudnya jika rakyat kecil yang melakukan pelanggaran, maka penegakan hukum di lakukan secara efektif, namun jika hal yang sama di lakukan oleh pemerintah selaku pemegang kekuasaan maka itu sangat sulit untuk di tegakan secara efektif. Pemerintah kita seakan-akan  kebal dengan hukum. Padahal jelas dalam hukum mengandung asas The Rule Of Law ( semua manusia sama ke dudukanya di mata hukum) asas ini menegaskan, bahwa tidak ada perbedaan antara pemerintah dan rakyat di mata hukum, namun realitasnya tidak demikian, hukum seakan-akan hanya di miliki oleh orang-orang tertentu saja dalam hal ini penguasa dan pengusaha.
Indonesia telah kehilangan rohnya sebagai Negara dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Yang pantas untuk Negara Indonesia adalah dari penguasa, oleh penguasa, dan untuk pengusaha. Mungkin ini yang lebih tepat, sebab saya menilai problem yang terjadi di Negara Indonesia tidak terlepas dari introfensi penguasa terhadap rakyat Indonesia demi kepentingan kapitalisme atau pengusaha yang akan menanamkan modalnya di Indonesia untuk mengekspolitasi sumber daya alam (SDA). Problem imprealisme yang terjadi di majusi dan kab. bima di NTB menjadi bukti yang kuat, bahwa isu-isu politik dan korupsi hanyalah sebuah stragi SBY-BUDIONO untuk memuluskan masuknya investor asing ke Indonesia. karena isu korupsi yang sedang di perbincangkan selalu tidak mendapat penyelesaian, misalnya kasus bank century. Isu politik yang hangat saat ini tentang gedung DPR. Gedung DPR sudah sangat mewah di bandingkan rumah-rumah rakyat Indonesia.masih banyak rakyat Indonesia yang tinggal di bawah kolom jembatan, masih banyak anak-anak bangsa yang mengulurkan tanganya di setiap persimpangan jalan untuk mendapatkan recehan agar bisa bertahan  hidup.
Negara Indonesia di merdekakan dan di pertahankan kemerdekaany tidak lain dan tidak bukan hanya untuk melepaskan diri dari penjajahan colonial, namun sangat di sayangkan setelah terlepasnya kita dari penjajahan colonial, kita di masuki dengan penjajahan gaya baru, yakni imprelisme dan yang mejadi pelopor masuknya imprealisme Di Negara Indonesia adalah SBY-BUDIONO. Ini fakta kalau Indonesia telah kehilangan rohnya sebagai bangsa yang mengutamakan kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Sebab jika pemimpin suatu bangsa tidak lagi memperhatikan kesejahteraan rakyatnya, maka bangsa itu harus di pertanyakan konsistenya segai bangsa yang berdaulat dan berkeadilan, karena sejahtera atau  tidaknya suatu bangsa tergantung pemimpinya.

Negara Indonesia telah menjadi milik kaum penguasa dan pengusaha, sebab kesejahteraan dan keamanan hanya bisa di dapat di kalangan penguasa dan pengusaha. Rakyat jelata hanya bisa menitikan air matanya, karena mereka harus menyerahkan haknya terhadap penguasa untuk di ekspolitasi oleh pengusaha. Alangkah lucunya negri ini, rakyat terjajah di negri sendiri. Pemerintah di anggap sebagi pelindung rakyat, justru berbalik arah memusuhi rakyatnya dan menembakinya sampai mati. Anggapan rakyat Indonesia, ketika berakhirnya orde baru  dan setelah masuknya revormasi akan tercipta tatanan masyrakat yang sejahtera, ternyata itu hanya sebuah fatomorgana saja. Ketika SBY-budieono berkuasa kekejaman terhadap rakyat dan aktivis-aktivis baik mahasiswa maupun LSM kembali terjadi, mereka harus kembali berhadapan dengan aparat, kembali mandi hujan peluru yang akan menembus tulang yang tak berdaging. Berkuasanya SBY-BUDIENO di tandai dengan lahirnya penjajahan gaya baru dan hilangnya roh Negara Indonesia. maka hal yang harus di lakukan saat ini adalah bergandeng tangan, menyatukan tekad untuk mengatakan perlawanan ke pada ke diktatoran yang terjadi di pangkuan ibu partiwi serta di pelosok-pelosok nusantara dari sabang sampai merauke Negara indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar